Pengikut

04 Juni 2009

Mestinya Ibu Prita Ngeblog Aja ya!

Kenal dengan Ibu Prita? yang sejak beberapa hari terakhir ini menjadi perbincangan semua orang, bahkan capres sekalipun! Dan anehnya, semuanya sepertinya berada di pihak Ibu Prita, yang sempat di bui karena mengadukan keluhannya melalui email yang akhirnya menyebar dengan liar di beberapa milis.

Mengapa bisa semua menjadi pembela ya, meski persidangannya baru dilakukan pada Kamis pagi ini. Bisa jadi karena pembacanya merasa kasihan dengan nasibnya yang sudah membayar mahal atas layanan di salah satu rumah sakit, lalu mengadu, malah akhirnya di bui. Ada juga yang membela karena bisa jadi ini menjadi preseden buruk bagi mereka yang ingin mengadu lewat surat elektronik atau fasilitas lain di dunia maya.

Lepas dari mana yang salah, sepertinya memang alasan yang terakhir menjadi banyak kekhawatiran banyak pihak. Malah jangan-jangan ngeblog juga bisa berakhir di penjara karena alasan yang sama, seperti yang pernah ditulis di detik. Parah ya?

Awalnya memang tulisan di email yang ditulis Ibu Prita hanya menyebar ke beberapa teman, namun pasti paham deh dengan bahayanya menulis email di milis-milis. Kadang berita yang mengandung kehebohan pasti bakalan laris manis tersebar dengan cepat, tanpa diketahui kebenaran sumbernya. Coba deh, sudah berapa kali kan email kita dikirimi pemberitahun bila misalnya email yang dibaca tak segera di forward, maka nasib kita bisa tragis. Atau juga ada beberapa kabar burung yang menyebut merek-merek terkenal adalah sumber penyakit bila dikonsumsi. Tentu berita-berita yang menakutkan seperti tadi bisa lebih cepat menyebar karena ada kekhawatiran bila berita itu sungguh terjadi. Dan yakinlah bila email-email semacam ini pasti akan terus bergentayangan di milis entah karena ada yang tak tahu menahu kebenarannya, atau karena memang dirasa perlu untuk meneruskannya ke teman yang lain. Terbayang kan bila ini bisa terus berputar?

Padahal bila tadi pagi dengar salah satu alasan dari dr Bina Ratna, Direktur RS Omni, bahwa dia tak mungkin mengentikan email yang sudah terlanjur terkirim, ini juga bisa jadi alasan yang benar. Meski misalnya pihak rumah sakit memberikan email tanggapan, namun apakah bisa seefektif berita yang sudah terlebih dahulu menyebar?

Andai saja Ibu Prita menuliskannya dalam blog, mungkin saja pihak rumah sakit akan lebih mudah mewadahi keluhannya, bisa dalam bentuk komentar dalam blognya, atau juga langsung membalasnya lewat situs perusahaan. Karena etikanya memang, bila salah satu blog dianggap merugikan, maka balasan yang setimpal adalah mengkounternya dengan merilis pernyataan di internet, baik lewat media yang sama (blog) maupun situs.

Juga salah satu sifat blog yakni penulisannya berdasarkan alur waktu tertentu, maka suatu artikel di blog pasti bisa jadi acuan yang lebih valid, berbeda nasibnya dengan email yang sulit untuk dicek kapan pengiriman validnya. Belum juga begitu mudahnya email yang mengaku pihak - pihak tertentu yang malah bisa semakin mengaburkan identitasnya. Berbeda misalnya dengan blog, yang biasanya pemiliknya lebih menjaga identitas, bukan dengan menyembunyikannya, namun dengan menjaga nama baiknya.

Jadi malah siapa tahu kan bila pengaduan Ibu Prita malah dilayani dengan baik bila berkomunikasinya juga lewat media yang sama. Jangan heran loh bila rumah sakit yang berkomunikasi dengan lebih baik (tanpa campur tangan pihak hukum) akan lebih mendewasakan komunikasi. Misalnya setelah Ibu Prita menuliskan keluhannya di blognya, lalu di posting berikutnya Ibu Prita malah memuji rumah sakit ini karena pelayanannya yang lebih baik. Tentu jadi lebih terkontrol kan beritanya.

Dengan begitu mungkin saja nama baik rumah sakit OMNI akan lebih beruntung dari nasibnya yang skarang begitu buruk di ranah maya. Saatnya instansi-instansi mulai mengkomunikasikan lewat blog sepertinya ya :)