Pengikut

27 Januari 2011

Menulis Mampu Melatih Instuisi

Menulis bisa jadi kegiatan yang terlihat sepele. Paling tidak bagi sebagian orang. Terlebih blogger. Tapi, bukan tanpa hambatan. Narablog, alias blogger kadang masih saja berasa berat untuk memulai menulis. Update blog? duh mending ngelakuin hal yang lain deh :)

Jangan asal tebak juga, kalau misalnya ngeblog itu ga perlu. Contoh mudahnya itu menulis biasa saja. Di secarik kertas maksudnya. Teman juga tak memiliki blog, tapi dimana ada kertas, kadang ada saja sesuatu yang ditulisnya. Dan memang tak perlu berbaris-baris. Hanya beberapa kata saja yang dirasa perlu. Lalu manfaatnya? dia kadang bisa lebih mudah mengingat sesuatu karena teringat dia pernah menuliskannya.

Teman lainnya, seorang programmer. Dia punya kisah buruk deh bila berhadapan dengan menghapal rumus. Nilainya saat masih kuliah juga ga bagus. Tapi lihat kemampuannya, dia masih sibuk mengurusi coding. Sampai sejauh mana rumus-rumus itu bisa nempel di kepalanya?


Foto : 3-b-s.eu

Menurutnya, itu karena kebiasaan menulis. Dia lebih suka menulis daripada menghafal. Kadang sesuatu yang dipelajarinya akan lebih mudah dimengerti bila dilakukan oleh tangannya. Dengan menulis langsung, dia lebih mudah memahami logikanya. Belum lagi ketika dipraktekan di komputer langsung, dia langsung mendapati referensi untuk menulis kode dengan benar. Warna hitam artinya ada sintak yang belum tertutup sempurna misalnya.

Nah, inilah yang disebut sebagai kekuatan otot. Kekuatan otot mampu menyeimbangkan kemampuan otak. Seolah, tatkala otak kita sudah dijejali dengan hal yang penuh, otot masih mampu menyimpan tenaga sebagai sumber kekuatan untuk mengingat sesuatu. Kalau baca bukunya Pak Rhenald Khasali yang pakar marketing itu, ini disebut sebagai Myelin.

Pernah baca? eh mending nulis aja deh, makanya ngeblog lagi yuk :D