Pengikut

10 Maret 2015

Cara Mengingat Nama Orang lebih Awet

Seberapa seringkah kita lupa mengingat nama seseorang? jika kita adalah tipe orang yang mudah lupa nama, kita pasti sering merasa serba salah saat kita berjumpa seseorang yang kita pernah jumpa lalu enggan menyapa karena kita sendiri lupa siapa dirinya.

Nah mungkin ada baiknya juga sih denger kisah seorang yang bernama Indra Pun. "Kadang saya lama tak bersua dengan tamu hotel untuk saat yang lama, namun saat itu juga saya bisa mengingat namanya," ujar Pun, seorang chief concierge di The Mandarin Oriental Hong Kong."Saya melatihnya seperti melatih otot". Hebatnya, setelah hampir 11 tahun bekerja di bisnis ini dan mengingat ratusan nama dalam kepalanya, Pun punya beberapa tips berbagi.



Pertama, konsentrasilah saat berkenalan. "Otak kita harus bekerja laiknya kamera," ujarnya. Dengarkan baik-baik saat orang menyebut nama dalam perkenalannya, lalu "simpan gambar dalam otak kita akan hal unik akan orang tersebut lalu asosiasikan hal unik tadi dengan namanya." Mungkin saja orang tersebut punya tahi lalat besar di mukanya, atau jelana layaknya seorang tentara. Begitu foto tersebut terekam, mulailah untuk menyebut namanya. "Sebut namanya dua hingga tiga kali saat bersua berkenalan," timpal Pun.

Ketika kita bertemu orang penting, latihkah beberapa saat lebih lama dibanding hal tadi. Pun dan beberapa rekan kerjanya berlatih dengan beberapa pengucapan. Bagi kita yang awam, beberapa kali belajar hal ini akan emnguntungkan saat kita mendapatkan wawancara pekerjaan atau mengenali bos di atas kita, nama dan kesukaan mereka menjadi lebih dikenali.

Jangan takut menyebut nama asing. "Nama yang sulit justru akan lebih mudah diingat karena kita sudah stres terlebih dulu untuk sekedar mengeja namanya," ujar Pun, 35 tahun, yang lahir di Hongkong, berpendidikan di Singapura dan mahir berbahasa Inggris, Nepal, Mandarin dan China.

Jika kita tak yakin kita menyebut nama dengan benar, Pun menyarankan untuk belajar dan ijinkan orang lain untuk membantunya. Lebih baik dikoreksi kesalahan daripada tak menyebutnya karena takut salah. Sebuah studi akan neuro­imaging menyebutkan bahwa suara dari nama kita sendiri menghasilkan pola aktifitas yang berbeda dalam otak kita untuk lebih peka saat disebut "Semua orang suka saat namanya dipanggil," akhir Pun.